Monday, December 8, 2014

Segmentation, Targeting, And Positioning – McDonald’s


Dalam video berjudul Segmentation, Targeting, and Positioning - McDonald's, dapat kita ketahui bahwa dalam membuat dan mengembangkan product development, perusahaan menggunakan target marketing yang biasanya menggunakan specific segment dari suatu populasi. McDonald's memiki fokus utama di dalam penyusunan strategi marketing, yaitu menggunakan pendekatan terkait perspektif tentang segment yang berbeda dengan perusahaan lain. 



Carol Sagers, Director, US Marketing, McDonald's USA, mengungkapkan:

Biasanya perusahaan tradisional mengorganisir produk perusahaan menggunakan brand-nya, sehingga kerap dikenal Brand Manager, contoh Brand Manager  dari brand Lays (makanan ringan, keripik kentang). Nah di McDonald's selain memiliki Brand Manager, semisal Brand Manager Big Mac, Brand Manager Franchise dan lain-lain, McDonald's juga memiliki Segment Manager. Selain itu, di McDonald's terdapat director segmen muda dan dewasa, director segment kalangan wanita dan ibu-ibu, director segmen African-American dan lain-lain. Struktur inilah, yang dengan sendirinya membuat McDonald's memiliki posisi yang mampu memaksimalkan targeting market average-nya.

McDonald's mencoba mencari consumer insight, dengan cara melihat consumer behavior dari marketing research yang mereka lakukan. Pendapat Carol Sagers:
Dalam mendesain produk, setiap hari dikumpulkan informasi dan data yang ada dari segment yang berbeda, untuk dapat mengetahui respon dan pemahaman segmen tertentu tentang produk McDonald's.


Consumer insight berfokus pada value (nilai), need (kebutuhan) dan lifestyle (gaya hidup) yang ada dalam masing-masing segmen. Dan ada tim-tim khusus yang menangani masing-masing segmen tersebut, sebagaimana mereka juga menangani segmen populasi secara umum.

Pengalaman McDonald's dalam product development-nya sebagaimana diungkapkan Carol Sagers:

Dari kasus South West Chicken Salad, McDonald's belajar dari costumer dimana salad ini menyajikan bahan-bahan terbaik dan general market bisa mendapatkannya. Ini terlihat dari banyaknya varian bahan yang dipakai dan sangat menarik sebagai bahan dasar pembuatan salad ini. McDonald's belajar dari konsumen Afro-American, dimana mereka sangat jarang memberikan complain, dan mereka menyadari bahwa salad ini benar-benar enak. Karena segmen ini membutuhkan hottie-feeling and interesting salad. Bahan yang disajikan berasal dari culture dan heritage. Ini membuat sajian itu sesuai bagi customer Asia yang membutuhkan cita rasa yang lebih bervariasi, baru, dan berbeda. Produk ini menjadi laris di China, Korea, dan USA sebagai the new exciting taste salad.


 Produk ini menjadi sangat sukses bagi McDonald's, kuncinya adalah dengan memahami various consumer segment, dan mencoba menempatkan product positioning pada masing-masing segmen. Tentunya hal ini membuat McDonald's dapat meningkatkan penjualannya dengan signifikan.


Kesimpulan yang disampaikan Carol Sagers adalah sebagai berikut:

McDonald's memiliki ribuan pekerja yang bekerja sepanjang waktu, perusahaan harus dapat selalu menjaga agar semua info yang disampaikan (ke dalam maupun ke luar) adalah informasi yang benar. Hal ini juga bermanfaat untuk mendapatkan insight dimana marketing diperlukan untuk mendapatkan hasil yang ingin dicapai, dan disebut sebagai Business Building Marketing.


Setelah memahami video Segmentation, Targeting, and Positioning - McDonald's ini, kita dapat melihat beberapa key points yang dimiliki oleh Mc Donald’s dalam mengembangkan bisnisnya, yaitu:

1.      Mc Donald’s memiliki fokus utama di dalam penyusunan strategi marketingnya, yaitu menggunakan pendekatan perspektif mengenai segment yang berbeda dengan perusahaan lain yaitu market segmentation. Dalam www.toknow.com disebutkan bahwa:

Market segmentation is a process to divide the entire market for certain product into key customer subsets, or segment, whose members share similar needs and desires, purchase behavior and habits[1].

Mc Donald’s menjadi lebih tau apa yang masing-masing segmen itu inginkan, berdasarkan pada consumer insight yang berfokus pada value (nilai), need (kebutuhan) dan lifestyle (gaya hidup) yang ada dalam masing-masing segmen dimaksud.

2.      Mc Donald’s mengerjakan secara serius mengenai segmentasi pasar untuk produknya, hal ini dapat dilihat dari kehadiran Brand Manager di dalam struktur organisasi sebagai satu titik penting dalam sentral organisasi. Selain itu segmentasi konsumen juga ditampilkan dari adanya director segment muda dan dewasa, director segment kalangan wanita dan ibu-ibu, director segment African-American dan lain-lain. Masih dari www.toknow.com disebutkan bahwa:

Look back of the development history of McDonald’s Corporation, we found that McDonald has always pay great attention to market segmentation. It made market segmentation accurately according to the geography, population and the psychological elements and carried out corresponding strategies so as to reach the marketing aim of the corporation. It is this that made McDonald’s had such great success which surprised the world[2].

Salah satu hal yang menonjol dan membedakan Mc Donald’s dari Starbucks diungkapkan oleh Moesa Ismail dalam blognya sebagai berikut:

Mereka (Mc Donald’s) akan mempertimbangkan nilai yang paling kuat dan menciptakan kreatif marketing yang didasarkan pada kondisi segmen pasar yang ditentukan. Contohnya saja seperti strategi promosi yang dijalankan oleh McDonald’s diantaranya memanfaatkan iklan di televisi, membuat even internal, memberikan bonus menarik yang sesuai dengan perkembangan trend pasar, serta menciptakan menu baru yang digemari para konsumennya. Sedangkan Starbucks lebih memilih untuk menciptakan variasi produk yang kualitasnya benar-benar terjaga, menanamkan brand image yang cukup kuat melalui logo perusahaan yang digunakan, serta menggunakan produk promosi (merchandise) untuk memperkuat citra perusahaan yang mereka bangun[3].

3.      Dari kasus South West Chicken Salad yang menjadi produk unggulan Mc Donald’s, telah dilakukan riset yang cukup kuat dan mendalam sehingga Mc Donald’s berhasil membawa produk baru yang berbeda, namun tetap disukai oleh konsumennya. Bila anda mencari kata kunci Mc Donald’s South West Chicken Salad pada lama www.google.com akan muncul 162,000 hasil pencarian, hal ini menunjukkan bahwa jenis menu yang satu ini cukup popular[4]. Di samping itu laman-laman yang ditemukan banyak berisi review positif atas menu salad dimaksud, betapa hal ini merupakan satu dari sekian banyak indikator  kesuksesan product development yang dilakukan oleh Mc Donald’s dalam membuat menu baru sesuai target segment pilihannya.

Dari beberapa hal di atas, kita dapat simpulkan bahwa ketika suatu perusahaan akan serius mengambil segmen tertentu untuk berjualan produk tertentu, maka sangat dibutuhkan riset mendalam, khusus dan fokus, serta keberanian untuk melakukan inovasi dengan melihat pada kebutuhan pasar. Totalitas sangat diperlukan dalam menangani target segment market ini, termasuk dengan mengadakan Segment Manager dalam struktur organisasi perusahaan. Tujuan dari menangani target segment market secara terfokus tidak lain adalah untuk tujuan pemasaran, sebagaimana diungkapkan Sergio Zyman, mantan wakil presiden pemasaran dari Coca-Cola, dimana tujuan pemasaran adalah menjual lebih banyak barang ke lebih banyak orang secara lebih sering untuk menghasilkan lebih banyak uang dan pada gilirannya menghasilkan lebih banyak laba[5]. Hal ini pula yang menjadi tujuan dengan dilakukannya penentuan segmentation, targeting, and positioning dalam McDonald's.
(ditulis oleh: Aprilia R. Palupi, mahasiswi S2 Program Pasca Sarjana Jurusan Manajemen Komunikasi - FISIP UI, sebagai bagian dari tugas mata kuliah Manajemen Strategik)




[1] http://www.toknow.com , diakses pada tanggal 9 Desember 2014, pukul 00.00 WIB.
[2] http://www.toknow.com , diakses pada tanggal 9 Desember 2014, pukul 00.00 WIB
[3] http://www.hidupberkah.com, diakses tanggal 9 Desember 2014, pukul 13.00 WIB.
[4] http://www.google.com, diakses tanggal 9 Desember 2014, pukul 13.24 WIB.
[5] Philip Kotler & Kevin Lane Keller, Manajemen Pemasaran Edisi Ketiga Belas Jilid 1,  Jakarta, Erlangga, 2002.

No comments:

Post a Comment